01257 2200229 4500001002100000005001500021035002000036245007000056100001700126300002100143700002800164260003600192082001400228084002000242020001800262650002000280008004100300520062900341990001900970990001900989990001901008INLIS00000000001509120260203021900 a0010-02260000061 aBaratayuda :bkabut merah di atas tanah bersimbah /cPitoyo Amrih0 aPitoyo Amrih a536 hlm.; 20 cm.0 aDaruz Armedian (editor) aYogyakarta :bDiva Press,c2024 a899.221 3 a899.221 3 PIT b a9786231893833 aFiksi Indonesia260203 c 0 ind  a“… sehari kemarin hujan gerimis mengguyur Kurusetra, Uwa Prabu. Pagi hari ini kabut terlihat pekat menyelimut padang itu....” “... kabut…,” hanya kata-kata lirih yang keluar dari orang tua kurus itu. Wajahnya cekung. Matanya buta sejak lahir. Sang Destarastra. Bapak para Kurawa. “… kabut itu merah….” kata seorang kekar yang bicara kepada Destarastra. Bernama Raden Sanjaya. Anak dari Arya Widura, adik Destarastra. Berkata tentang halimun pagi di penglihatan sukmanya yang tampak janggal, yang lamat-lamat berwarna merah darah. “… mengapa kabut itu berwarna merah?” “… entahlah, Uwa Prabu…. a025.4951/PC/25 a025.4952/PC/25 a025.4953/PC/25